Sabtu, 11 Mei 2013

Ada banyak orang yang tidak menyadari bahwa kemewahan dunia merupakan suatu penghambat dalam menjalankan hubungan dengan Sang Pencipta. Bahkan ada saja orang yang rela menjual keimanannya demi suatu tujuan tertentu, yang pastinya demi mengutamakan kepentingan pribadinya. Bahkan baru-baru ini sangat gencar ditayangkan di media ataupun infotainment, yakni tentang Arya yang selalu mengucapkan kata "DEMI TUHAN". Yang lebih lucunya lagi, ia mau saja menerima tawaran dalam membuat iklan dan sebagainya. Padahal jika ia menyadarinya, hal teersebut sudah membuat ia menjadi seseorang yang "menjual" Tuhan demi ketenarannya. Memang pada awalnya ia mungkin tidak sengaja oleh karena rasa amarahnya yang tidak terkendali terhadap mantan gurunya Eyang Subur. Hal demikian masih dianggap wajar. Tetapi itu menjadi tidak wajar ketika setiap ia tampil di infotainment dengan mengucapkan kata tersebut. Rupanya hal tersebut akhirrnya sudah menjadi gaya hidupnya atau lebih tepatnya sebagai ciri khas. Bahkan ada juga yang iseng sampai membuat sebuah video yang akhirnya dijadikan sebagai ring tone. Semoga saja mas Arya cepat sadar, bahwa ia sudah terjebak di dalam sebuah lubang yang sangat dalam, yang telah memisahkan ia dengan Sang Pencipta.

Penelitian



Nama              : Jaya Edi Suparmanto
NIM                : 08.14.56
Mata Kuliah   : Liturgika
D. Pengampu : Pdt. Tahan M. Cambah, M. Th

Gereja Katedral Banjarmasin
            Waktu penelitian di Gereja ini pada hari Minggu tanggal 14 Maret 2010, dan pada ibadah Minggu ini juga bertepatan dengan hari perayaan “Ekaristi Paroki” atau “Keluarga Kudus.” Umat sangat antusias untuk ikut beribadah, hal ini terbukti dengan adanya umat yang berada di ruangan lain yang disebut sebagai ruangan Sasana Hati. Ruang Sasana Hati ini dapat digunakan untuk menampung umat apabila umat di dalam ruangan utama sudah penuh. Namun umat yang ada di dalam ruangan Sasana Hati hanya mendapat pelayanan melalui LCD yang ditampilkan di depan ruangan Sasana Hati, karena Uskup, Suster juga Pastor melayani di ruangan utama Gereja Katedral. Karena letak ruangannya berbeda, sedangkan waktu ibadah bersamaan maka mereka yang berada di ruangan Sasana Hati hanya bisa menyaksikan pelayanan itu melalui LCD, namun pada intinya tetap di layani  dan tetap mendapat Komuni walalaupun mereka berada di ruangan lain. Letak ruangan Sasanan Hati berada di sebelah Gereja Katedral.
            Ketika kami sampai di depan Gereja, kami disambut baik oleh satpam yang menjaga parkir di area Gereja, namun setelah ia tahu bahwa kami datang ingin melakukan penelitian seketika itu juga wajah satpam berubah seperti kurang senang. Dan para umat juga ketika masuk Gereja langsung mencelupkan tangan mereka ke dalam sebuah air yang disediakan di samping pintu masuk sambil menempelkan air yang dicelup itu ke kening, ke tengah dada, ke samping kiri dan ke samping kanan, sambil mengucapkan “atas nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus Amin.” Kami duduk di bangku yang paling belakang, kami tidak ingin duduk di depan karena setiap umat sebelum duduk ke kursi harus berlutut sebentar dengan membuat simbol salib di tubuh mereka dengan nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Kami tidak ingin mencuri perhatian umat ketika kami duduk tidak berlutut dan tidak bertindak seperti mereka. Oleh sebab itu kami memilih duduk di belakang agar tidak mengganggu perhatian dan konsentrasi orang untuk beribadah.
Adapun tata ibadah yang digunakan pada Minggu itu seperti berikut:
Yang pertama ; Ritus pembuka sebagai Tahap persiapan ibadah yang terdiri dari :
v  Lagu pembuka,
v  Menghormati altar,
v  Membuat tanda salib ( Dalam nama Bapa, dan Putera. Dan Roh Kudus),
v  Menerima salam,
v  Tema ibadah,
v  Pernyataan tobat – (kyre), 
v  Madah pujian dan kemuliaan,
v  Dilanjutkan doa pembukaan.
Yang kedua : liturgi sabda yang menjadi bagian pokok dalam ibadah 
v  Bacaan 1
-          Antar  bacaan : Mazmur tanggapan
v  Bacaan II       
-     Bait pengantar injil
v  Bacaan injil
-       Aklamasi
v  Homili / Khotbah
v  Syahadat
v  Doa Umat

Yang ketiga ; Liturgi Ekaristi yang termasuk bagian pokok ekaristi :
v  Persembahan :
Persiapan diliputi ;
kolekte , pengedaran kolekte. Di iringi lagu persembahan, kemudian memberikan persembahan. Mengucapkan pengantar doa persembahan. Dan dilanjutkan doa persembahan.
v  -Doa Syukur ibadah
Prefasi yang dibuka dengan dialog pembukaan, kudus, doa syukur agung.
v  Komuni
-          Pengantar doa bapa kami
-          Doa Bapa kami
-          Embolisme
-          Salam Damai
-          Pemecahan Hosti suci- anak domba Allah
-          Doa menjelanag komuni
-          Ajakan menyambut kkomuni
-          Menyambut komuni di iringi lagu komuni
-          Saat Doa penutup
v  Penutup
-          Berkat
-          Pengutusan
-          Menghormati Altar
-          Lagu penutup
Ketika baru memulai ibadah, Uskup mengucapkan salam kepada umat dan dengan sikap berdoa Uskup memulai dengan membacakan Yesaya 66:10-11. Setelah itu umat diminta untuk berlutut sambil berdoa untuk pengampunan dosa
Setiap pada akhir bacaan selalu di ucapkan oleh petugas yang membaca dengan mengucapkan ”Demikianlah sabda Tuhan”  ( dengan nada yang di nyanyikan ) dan umat menyahut dengan mengucapkan ” Syukur kepada Allah.”
Pada waktu bacaan injil umat berdiri dan Uskup mengucapkan ” Tuhan Sertamu” Dan umat menyahut ” dan sertamu Juga” kemudian uskup melanjutkan dengan berkata ”Inilah injil Yesus Kristus menuru Injil  Lukas” Lalu umat menyahut” Dimuliakanlah Tuhan”. Dan uskup membacakan isi bacaan yang pada saat itu terambil dari (Luk 15: 1-3. 11-32). Selama pembacaan  injil umat berdiri. Kemudian pembacaan itu diakhiri dengan kata-kata yang dinyanyikan  ”Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan, dan tekun melaksanakannya”  lalu umat menyahut ” sabdamu adalah jalan kebenaran dan hidup kami.”
Pada bagian syahadat umat diminta berdiri, begitu pula pada waktu menaikkan doa umat.  Adapun doa umat terdiri dari ;   
1. Doa bagi Paroki mereka,
2. Bagi para orang tua,
3. Bagi mereka yang lapar,
4. Bagi diri sendiri.
            Setiap pokok doa tersebut seorang Suster mengatakan ”marilah kita mohon” dan umat menyahut dengan mengcupkan ”kabulkanlah doa kami ya Tuhan.”
Lalu kemudian masuk ke dalam ibadah Ekaristi yang diawali dengan persembahan, lalu berdoa dan umat diminta berdiri sambil mengucapkan amin. Dan Uskup mengucapkan doa Syukur Agung sebelum memasuki penerimaan komuni. Setelah menerima komuni umat saling bersalaman dengan menyanyikan lagu salam damai. Setelah itu masuk ke dalam penutup yang di bawakan oleh Pator Paroki dengan jubah putih sedangkan Uskup berjubah hitam yang hanya memimpin ketika berjalannya ibadah. Dengan masuknya ibadah penutup maka Pastor mengatakan ”Tuhan besertamu” dan umat menyahut dengan mengatakan ”dan serta mu juga”
Komentar:
Di sini ibadahnya tidak terlalu banyak melibatkan umat dalam artian seperti di GKE, sehingga antara umat dan para Imam terlihat ada kesenjangan dan mereka juga tidak terlalu terbuka untuk menerima orang luar untuk beribadah bersama mereka, karena ibadah mereka adalah ibadah yang suci dan yang mengikutinya ialah orang suci. Katolik masih kental dengan pendeskriminasian terhadap orang yang dianggap tidak sesuai dengan criteria mereka. Namun tata ibadah Katolik sangant menyenangkan, karena mereka masih menggunakan tata ibadah jaman dulu. Mulai dari salam, pembacaan doa bapa kami dan pengutusan dan berkat pun mereka gunakan dengan nyanyian seperti pembacaan kitab M,azmur pada jaman dulu.

EE



Nama                          : Jaya Edi Suparmanto
NIM                            : 08.14.56
Mata Kuliah               : Missiologi Kontemporer
Dosen Pengampu      : Pdt. Kinurung Maleh Maden, M.Th, MA

LEDAKAN PENGINJILAN
I. Pernyataan Iman Ledakan Penginjilan:
Pernyataan Iman Ledakan Penginjilan Internasional merupakan suatu pernyataan iman injili yang luas, yang sangat erat persamaannya dengan Injil yang disajikan didalam buku murid. Pernyataan Iman tersebut ialah sebagai berikut:
1. Alkitab adalah Firman Allah yang diilhamkan, satu-satunya yang tidak ada salahdan berwibawa mutlak.
2. Hanya ada satu Allah, yang secara abadi berada di dalam tiga Oknum: Bapa, Putra dan Roh Kudus.
3. Tuhan kita Yesus Kristus adalah Allah dan Manusia di dalam satu Oknum. Dia dilahirkan oleh seorang perawan, menjalankan hidup yang tanpa dosa, mengadakan mujizat dan mengadakan pendamaian untuk dosa melalui pencurahan darah dan kematian-Nya. Dia telah dibangkitkan dari antara orang mati, naik ke Surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa dan akan kembali secara pribadi di dalam kekuasaan dan kemuliaan.
4. Regenerasi oleh Roh Kudus mutlak diperlukan untuk keselamatan manusia yang terhilang dan penuh dosa.
5. Kehidupan kekal diterima melalui iman; maksudnya, hanya mengandalkan Yesus Kristus untuk memperoleh keselamatan.
6. Roh Kudus tinggal di dalam semua orang percaya dan menjadikan mereka mampu menjalankan hidup yang saleh.
7. Orang yang selamat dan orang yang tidak selamat akan dibangkitkan dari kematian; mereka yang selamat akan dibangkitkan untuk kehidupan kekal dan mereka yang tidak selamat akan dibangkitkan untuk hukuman abadi.
8. Terdapat kesatuan rohani di antara semua orang percaya sejati di dalam Tuhan kita Yesus Kristus.
9. Gereja lokal merupakan landasan operasi yang telah ditetapkan Allah untuk kegiatan penginjilan di seluruh dunia.
10.Setiap orang percaya sejati memperoleh tugas dari Kristus untuk ‘memberitakan Injil kepada semua makhluk’ dan ‘menjadikan sekalian bangsa murid-Nya.’
11.Para peserta yang belum berpengalaman dimungkinkan untuk memberitakan Injil melalui keterlibatan di dalam kelompok-kelompok pemuridan yang mencantumkan pelatihan lapangan dengan bersaksi langsung di bawah bimbingan para pelatih yang sudah lebih berpengalaman.
II. Cara Kerja Pelatihan Ledakan Penginjilan:
1. Doa dan Mitra Doa; Segala macam usaha penginjilan adalah peperangan rohani di garis depan dan doa merupakan senjata terampuh.
2. Tim; Selama pelatihan berjalan akan ada pengelompokan tim yang terdiri dari tiga orang, dan masing-masing kelompok akan dipimpin oleh seorang pelatih yang sudah pernah mengikuti pelatihan sebelumnya.
3. Latihan di dalam kelas/simulasi; Dalam pelatihan Ledakan Penginjilan, Guru/Pelatih akan menjelaskan materi tiap unit untuk membantu memahami makna teologis di balik penyajian Injil disertai pengalaman praktis di lapangan.
4. Latihan di lapangan;Setiap Minggu akan diadakan latihan lapangan yang dibimbing oleh pelatih. Setelah latihan lapangan setiap Minggu, semua tim akan berkumpul dan melaporkan secara singkat hasil kunjungan mereka.
5. Persiapan; Setiap Minggu akan diberikan pekerjaan rumah untuk membantu mempelajari materi pelajaran dan untuk membantu mempersiapkan diri bagi pelajaran minggu-minggu berikutnya.Tugas itu meliputi membaca, menghafalkan dan persiapan pribadi lainnya, tetapi hanya akan memakan waktu 1-2 jam setiap Minggunya.
6. Bersaksi sebagai gaya hidup; Ledakan Penginjilan bukan hanya dimaksudkan sebagai pelatihan semusim yang akan segera dilupakan setelah beberapa Minggu.Ledakan Penginjilan dirancang untuk mengubah gaya hidup.
7. Ujian; Pada pertengahan dan akhir pelatihan akan diadakan ujian tertulis dan lisan, guna untuk mengukur sejauh mana kemajuan yang telah dicapai selama mengikuti pelatihan.
8. Pemberian sertifikat; Setelah berhasil mengikuti pelatihan sampai selesai, akan ada penyerahan sertifikat sebagai tanda penghargaan karena telah berhasil menyelesaikan pelatihan.
III. Isi Pelatihan Ledakan Penginjilan
1. Hal-Hal Pertama
a. Tujuan Pelatihan Ledakan Penginjilan
-        Membekali diri untuk memberitakan Injil secara efektif kepada seseorang yang Kristen atau Nonkristen.
-        Menjadikan Bersaksi sebagai Gaya Hidup.
b. Prinsip Ledakan Penginjilan
-        Setiap orang Kristen harus menjadi saksi (Kis 1:8).
-        Merupakan tanggung jawab gembala untuk memperlengkapi orang-orang kudus (Efesus 4:11-12).
-        Tindakan memperlengkapi yang tepat dengan cara Latihan Lapangan ( Mark 3:14).
-        Dengan melatih orang lain akan sangat besar pengaruhnya daripada hanya memenangkan jiwa, karena dengan demikian berarti bukan hanya menambah jiwa melainkan melipatgandakan jiwa.


c. Beberapa dasar untuk penginjilan yang efektif
-        Kesatuan Tubuh Kristus (1 Kor 12:24,25); Ledakan Penginjilan berfokus pada kesatuan, dan waktu yang diluangkan bersama. Yang menjadi bekal dalam penginjilan ialah kerja sama dengan saling mendukung dan memberi semangat.
-        Doa (Ef 6:18-19); Penginjilan di dalam Perjanjian Baru senantiasa dibekali dengan doa.
-        Komitmen untuk Pelatihan (1 Kor 15:58); Komitmen yang dibuat meliputi disiplin waktu ketika menghadiri setiap pertemuan, mengerjakan semua tugas yang diberikan, berpartisipasi dalam setiap sesi penerapan, ambil bagian dalam Latihan Lapangan dan mempunyai waktu yang cukup untuk berdoa.
2. Peragaan Penyajian Injil
a. Persahabatan
1.      Kehidupan sehari-hari;Dimulai dengan pembicaraan yang umum dan masuk ke dalam kehidupannya sehari-hari dengan cara pendekatan umum.
2.      Latar belakang rohani; Tanyakan latar belakang rohaninya dengan cara yang halus dan tidak menyinggung perasaan.
3.      Kegiatan rohani; Tanyakan seberapa aktif dia terlibat di dalam kegiatan rohani, dalam rangka untuk mengetahui seberapa besar ketertarikannya pada hal-hal rohani.
4.      Kesaksian; Gunakan kesaksian pribadi untuk menarik minatnya pada apa yang akan disampaikan tentang kehidupan kekal.
5.      Dua pertanyaan diagnostik; Dua pertanyaan kunci dalam Ledakan Penginjilan
P1. Seandainya anda meninggal dunia hari ini, Apakah anda yakin pasti masuk Surga?
P2. Mengapa Allah mengijinkan anda masuk Surga-Nya?
b. Injil
1. Anugerah
-        Hidup kekal adalah anugerah Allah (Roma 6:23b)
-        Hidup kekal tidak didapat karena usaha atau karena upah (Efesus 2:8-9)
-        Ilustrasi: Hadiah kawan (kado ulang tahun)
-        Kalimat peralihan: Apakah yang menghalangi kita menerima karunia itu? Dosa
2. Manusia
-        Semua manusia telah berdosa (Roma 3:23); Dialog tentang apa itu dosa?
-        Manusia tidak bisa menyelamatkan diri sendiri; Dialog tentang apa yang harus dilakukan.
-        Ayat patokan: Matius 5:48 (sempurna)
-        Ilustrasi: Telur Busuk
-        Kalimat peralihan: Mari kita melihat bagaimana cara Allah
3. Allah
-        Pengertian yang salah tentang Allah digambarkan dengan tokoh kakek dan polisi;
Tokoh Kakek: Mempunyai kasih tetapi tidak adil
Tokoh Polisi : Bertindak adil tetapi tidak mempunyai kasih
-        Pengertian yang benar tentang Allah ialah mempunyai kasih sekaligus bertindak adil walaupun manusia telah berdosa, namun Ia mengasihi umat manusia dan tidak ingin menghukumnya. Akan tetapi Allah juga bertindak adil dan menghukum manusia yang tidak mau sadar dan mengakui dosa-dosanya.
Mempunyai kasih: Yeremia 31:3 (tidak ingin menghukum)
Bertindak adil: Keluaran 34:7b (harus menghukum)
-        Ilustrasi: Tentang Perampok Bank yang terpaksa merampok oleh karena situasi tertentu.
-        Ayat patokan: Roma 6:23a (maut)
-        Dilema: Bagaimanakah kasih sdan adil bisa bertemu?
-        Ilustrasi: Cerita tentang pengorbanan Shamila
-        Kalimat peralihan: Allah menunjukkan kasih dan keadilan-Nya melalui pengorbanan-Nya di dalam diri Yesus Kristus.
4. Kristus
-        Yesus adalah Allah yang telah menjadi Manusia (Yohanes 1:1,14)
-        Apa yang dilakukan-Nya sehingga rela menjadi Manusia di dalam diri Yesus Kristus?
Yesus mengorbankan diri-Nya di kayu salib untuk menebus dosa-dosa manusia (Yoh 19:30a)
Melalui kebangkitan setelah kematian-Nya di kayu salib dan naik ke Surga untuk menawarkan kehidupan kekal bagi umat manusia(Roma 6:23b)
-        Ayat patokan: Yesaya 53:6 dan 2 Korintus 5:21
-        Kalimat peralihan: Anugerah hidup kekal ini dapat diterima dengan iman
5. Iman
-        Ilustrasi: Hanya ada satu kunci yang bisa membuka pintu Surga yakni Iman.
-        Iman yang tidak menyelamatkan:
Melompat dalam gelap, iman yang hanya percaya tetapi tidak tahu apa dan siapa yang ia percayai.
Keyakinan berdasarkan akal, iman yang hanya berdasarkan pengetahuan tetapi tidak mempunyai relasi dengan Yesus.
Iman sementara, iman yang hanya mengandalkan Yesus ketika mempunyai keinginan tertentu.
-        Iman yang menyelamatkan:
Iman yang menyelamatkan ialah mengenal dan selalu mengandalkan Yesus Kristus saja sebagai Tuhan dan Juruselamat untuk memperoleh hidup yang kekal (Yohanes 14:6)
-        Ilustrasi:
Blondin, seorang pemain akrobat asal Amerika yang menyeberangi air terjun Niagara bersama anaknya dengan melewati sebuah tali. Anaknya berani mengambil resiko untuk ikut ayahnya menyeberang karena ia percaya bahwa ayahnya tidak mungkin mencelakakan dia.
Kapal, ketika sebuah kapal hancur berantakan di tengah laut karena diterpa badai dan kita selamat karena ada sepotong papan tempat berpegang. Namun ketika ada sebuah kapal yang datang untuk memberi bantuan dan ada seorang kapten yang mengulurkan tangannya agar bisa diraih, sudah pasti kita akan melepaskan sepotong papan yang menyelamatkan kita dan meraih tangan sang kapten.
Tali benang, seseorang tidak akan mungkin bisa memanjat jurang dengan seutas tali yang disambung dengan seutas benang, karena benang itu pasti akan putus. Tetapi hanya cukup dengan seutas tali, seseorang akan bisa memanjat jurang.

C. Penyerahan Diri
-        Pertanyaan penjelasan: Apakah semua ini dapat anda pahami?
-        Pertanyaan Penyerahan Diri: Apakah anda mau menerima Anugerah hidup kekal?
-        Penjelasan penyerahan diri:
Menerima Yesus sebagai pemberi hadiah hidup kekal, mengalihkan dari pengandalan diri kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan kemudian mengakui Yesus sebagai Tuhan di dalam hati lalu bertobat, yakni berbalik arah dan mengikuti Yesus saja.
-        Doa penyerahan diri, yakni doa pengantar dan doa bersama.
-        Kepastian keselamatan (Yohanes 6:47; Yohanes10:28)
-        Ajukan dua pertanyaan diagnostik
-        Kalimat peralihan: Selamat datang dalam keluarga Allah
-        Ilustrasi: Jabat tangan Romawi
D. Tindak Lanjut Langsung
Ada lima langkah untuk bisa bertumbuh:
-        Alkitab; Mulailah membaca Alkitab sebagai makanan rohani
-        Doa; Hanya dengan doa kita bisa berkomunikasi dengan Allah
-        Kebaktian; Perlu untuk mengikuti kebaktian wajib setiap Minggu
-        Persekutuan; Melalui persekutuan akan ada kedekatan dan keakraban dengan saudara seiman
-        Kesaksian; Menceritakan Kabar Baik agar orang lain juga bisa mendengarnya dan turut menyaksikannya walaupun secara tidak langsung.




EVALUASI
Tanggapan:
Penginjilan yang dilakukan oleh EE berlandaskan atas Matius 28:18-20, yakni mandat yang diberikan Tuhan Yesus Kristus kepada para murid sebelum Ia naik ke Surga, untuk menjadikan semua bangsa sebagai murid-Nya dan membaptis mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Kemudian mengajarkan kepada mereka hal yang sama seperti yang Tuhan Yesus perintahkan kepada para murid. Oleh sebab itu, PI yang dilakukan EE merupakan salah satu cara orang-orang beriman untuk menjalankan mandat yang Tuhan Yesus berikan, walaupun mandat itu dinyatakan Yesus kepada para murid beribu-ribu tahun yang silam. Dengan kesadaran bahwa masih ada banyak orang yang belum menerima Injil, maka EE membuka jalan bagi siapa saja yang ingin ambil bagian dalam mewujudkan mandat Tuhan Yesus Kristus.
            Sebelum melakukan PI, pihak EE terlebih dulu membuat pelatihan bagi orang-orang yang ingin ambil bagian dalam missi untuk memberitakan Injil. Setiap orang dibekali dengan pengetahuan dan cara-cara dalam memberitakan Injil.
            Memberitakan Injil bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk dilakukan. Kelihatannya memang tampak sederhana, namun penuh resiko. Ada banyak kasus bahwa orang-orang yang melakukan penginjilan dianiaya, karena bagi sebagian orang itu merupakan penghinaan. Ada alasan lain yang menjadi faktor penghambat dalam melakukan PI, yakni kesalahan dalam memahami Injil dan kesalahan dalam melakukan pendekatan. Orang-orang menjadi takut untuk memberitakan Injil oleh karena keminoritasan keberadaan mereka yang seiman. Sebagai contoh, di Banjarmasin merupakan penduduk yang mayoritas pemeluk agama Muslim. Untuk melakukan penginjilan di Banjarmasin merupakan tantangan yang sangat berat. Ketika orang-orang Muslim ini tidak dapat menerima Injil yang diberitakan kepada mereka, maka akan menjadi sebuah kontroversi yang berujung dengan tindakan kekerasan. Jadi untuk menjaga kemungkinan itu terjadi, maka EE memberikan cara yang efektif dalam melakukan penginjilan. Cara tersebut ialah dengan melakukan pendekatan, yakni memulai langkah awal dengan membangun relasi melalui persahabatan. Dengan demikian, akan ada peluang bagi kita untuk memberitakan Injil melalui seputar obrolan yang sedang berlangsung. Selain itu, metodepenginjilan yang disajikanoleh EE cukupmenarik, karena dalam metode tersebut menerapkan metode ilustrasi dan bercerita yang dilengkapi dengan penjelasan dan makna rohaninya.Selain itu penyajian ilustrasi dan cerita juga dikemas secara sederhana dan cukup singkat, sehingga hal itu dapat mempermudah pendengar mengertidanmemahamimaksudpengajarantersebut.
Ada hal yang sangat menarik dari EE, yakni bahwa EE tidak mengutamakan pemenangan jiwa, akan tetapi yang lebih penting bagi EE ialah multiplikasi atau pemuridan. Maksudnya ialah dengan melatih orang lain akan sangat besar pengaruhnya daripada hanya memenangkan jiwa, karena dengan demikian berarti bukan hanya menambah jiwa melainkan melipat gandakan jiwa.
Pluralisme Agama-Agama:
Secara umum di Indonesia sendiri ada enam Agama yang telah disahkan. Setiap agama tersebut masing-masing memiliki ajarannya tersendiri tentang keselamatan. Jadi jika dikaitkan dengan keselamatan yang ada di dalam EE akan sangat jelas terlihat “kekslusifannya.” Dalam nats yang menjadi landasan EE dalam penginjilannya, yakni Yohanes 14:16 yang menyatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan menuju Bapa dan Keselamatan. Dengan kata lain, bahwa di luar Tuhan Yesus tidak ada keselamatan. Jadi konsep keselamatan di dalam agama lain akan menjadi sia-sia, karena tanpa menerima Injil maka tidak akan ada keselamatan. Dengan demikian, maka akan ada pembatasan antara agama Kristen dengan agama-agama lain.Pluralisme adalah keanekaragaman/kemajemukan kehidupan beragama dengan banyak agama. Jadi, apabila ajaran EE dibandingkan dengan pluralisme akan menjadi tidak berjalan selaras, oleh karena sifatnya yang sangat ekslusif. Dan hal itu juga membuat penginjilan cenderung dipandang sebagai pengkristenan. Eksklusifitas menyebabkan seorang Kristen berpotensi cenderung menutup diri terhadap orang-orang luar agama Kristen, pola pikirnya juga dapat saja menjadi pola pikir yang cenderung memandang orang lain sebelah mata, khususnya mengenai masalah keagamaan dan keselamatan.
            Dengan demikian agama Kristen menjadi kurang mampu untuk turut mengembangkan teologi agama-agama tentang konsep keselamatan. Tidak akan ada lagi teologi yang kontekstual jika pandangan orang-orang Kristen tentang keselamatan terlalu sempit. Jadi, konsep keselamatan yang ada di dalam agama Kristen bisa diselaraskan dengan konsep keselamatan yang ada di dalam agama-agama lain, dalam rangka mengaitkan atau menghadirkan keselamatan yang diberikan oleh Yesus Kristus.

Alkitab dan ajaran Yesus Kristus:
Metode yang digunakan EE dalam menyajikan Injil sama seperti metode-metode yang diterapkan oleh Tuhan Yesus dalam pengajaran-Nya, seperti metode bercerita, khotbah, bimbingan, perumpamaan, dan pengajaran di tempat-tempat ibadah. Ajaran EE juga sesuai dengan ajaran Alkitab mengenai keselamatan, bahwa keselamatan adalah dari Allah yang Ia karuniakan sebagai anugerah (pemberian yang selayaknya tidak dapat diterima manusia) Roma 6:23; Efs. 2:8-9dan melalui Yesus Kristus Roma 5:8.
            Ajaran EE sangat sesuai dengan apa yang terdapat di dalam Alkitab dan ajaran Tuhan Yesus sendiri. Hal itu terbukti dengan adanya pernyataan, yakni “melatih orang lain akan sangat besar pengaruhnya daripada hanya memenangkan jiwa, karena dengan demikian berarti bukan hanya menambah jiwa melainkan melipat gandakan jiwa.” Sangat jelas terlihat bahwa Amanat Agung Tuhan Yesus di dalam Matius 28:18-20 yang mengutamakan pemuridan dari pada pemenangan jiwa. Begitu pula kaitannya dengan Khotbah di bukit (Mat. 5-7), ringkasan Taurat (Mat. 22:37-40) dan penghakiman terakhir (Mat. 25:31-46) yang lebih mengacu kepada apa yang harus diperbuat kepada Allah dan manusia, yang berarti keselamatan secara holistik. Manusia tidak mungkin bisa menyelamatkan diri dengan usahanya sendiri, tanpa ia melandaskan usahanya atas dasar iman.
Aplikasi bagi GKE:
Ada banyak hal yang bisa diambil dan diterapkan di GKE tentang pelayanan dan penginjilan yang dilakukan EE. Usaha dan kerja keras EE dalam melakukan penginjilan bisa dijadikan sebagai motivasi bagi GKE. Penginjilan yang dilakukan EE tidak hanya berada di dalam ruang lingkup tertentu, tetapi menjangkau seluruh wilayah. Begitu pula hendaknya GKE bisa membuat prubahan baru dengan memperluas area pelayanannya.
            Keberanian EE dalam melakukan penginjilan juga perlu dijadikan sebagai contoh bagi GKE. Jika kita lihat bahwa penginjilan yang dilakukan EE mencakup kepada “semua orang,” tanpa membeda-bedakan latar belakang agamanya. Sedangkan yang menjadi kelemahan GKE ialah cenderung hanya menjadikan orang-orang Kaharingan sebagai objek penginjilan, tidak terhadap agama lain yang di luarKaharingan.Metode-metode yang digunakan EE juga sangat penting, seperti pendekatan dengan membangun relasi terlebih dulu melalui persahabatan.