Nama : Jaya Edi Suparmanto
NIM :
08.14.56
Mata Kuliah : Liturgika
D. Pengampu : Pdt. Tahan M. Cambah, M. Th
Gereja Katedral Banjarmasin
Waktu penelitian di Gereja ini pada
hari Minggu tanggal 14 Maret 2010, dan pada ibadah Minggu ini juga bertepatan
dengan hari perayaan “Ekaristi Paroki” atau “Keluarga Kudus.” Umat sangat
antusias untuk ikut beribadah, hal ini terbukti dengan adanya umat yang berada
di ruangan lain yang disebut sebagai ruangan Sasana Hati. Ruang Sasana Hati ini
dapat digunakan untuk menampung umat apabila umat di dalam ruangan utama sudah
penuh. Namun umat yang ada di dalam ruangan Sasana Hati hanya mendapat
pelayanan melalui LCD yang ditampilkan di depan ruangan Sasana Hati, karena
Uskup, Suster juga Pastor melayani di ruangan utama Gereja Katedral. Karena
letak ruangannya berbeda, sedangkan waktu ibadah bersamaan maka mereka yang
berada di ruangan Sasana Hati hanya bisa menyaksikan pelayanan itu melalui LCD,
namun pada intinya tetap di layani dan
tetap mendapat Komuni walalaupun mereka berada di ruangan lain. Letak ruangan
Sasanan Hati berada di sebelah Gereja Katedral.
Ketika kami sampai di depan Gereja,
kami disambut baik oleh satpam yang menjaga parkir di area Gereja, namun
setelah ia tahu bahwa kami datang ingin melakukan penelitian seketika itu juga
wajah satpam berubah seperti kurang senang. Dan para umat juga ketika masuk
Gereja langsung mencelupkan tangan mereka ke dalam sebuah air yang disediakan
di samping pintu masuk sambil menempelkan air yang dicelup itu ke kening, ke
tengah dada, ke samping kiri dan ke samping kanan, sambil mengucapkan “atas
nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus Amin.” Kami duduk di bangku yang paling
belakang, kami tidak ingin duduk di depan karena setiap umat sebelum duduk ke
kursi harus berlutut sebentar dengan membuat simbol salib di tubuh mereka
dengan nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Kami tidak ingin mencuri perhatian umat
ketika kami duduk tidak berlutut dan tidak bertindak seperti mereka. Oleh sebab
itu kami memilih duduk di belakang agar tidak mengganggu perhatian dan
konsentrasi orang untuk beribadah.
Adapun
tata ibadah yang digunakan pada Minggu itu seperti berikut:
Yang pertama ; Ritus pembuka sebagai Tahap persiapan ibadah yang terdiri
dari :
v
Lagu pembuka,
v
Menghormati altar,
v
Membuat tanda salib ( Dalam nama Bapa, dan Putera. Dan Roh Kudus),
v
Menerima salam,
v
Tema ibadah,
v
Pernyataan tobat – (kyre),
v
Madah pujian dan kemuliaan,
v
Dilanjutkan doa pembukaan.
Yang kedua : liturgi sabda yang menjadi bagian pokok dalam ibadah
v
Bacaan 1
-
Antar bacaan : Mazmur tanggapan
v
Bacaan II
-
Bait pengantar injil
v
Bacaan injil
-
Aklamasi
v
Homili / Khotbah
v
Syahadat
v
Doa Umat
Yang ketiga ; Liturgi Ekaristi yang termasuk bagian pokok ekaristi :
v
Persembahan :
Persiapan diliputi ;
kolekte , pengedaran kolekte. Di iringi lagu persembahan,
kemudian memberikan persembahan. Mengucapkan pengantar doa persembahan. Dan
dilanjutkan doa persembahan.
v
-Doa Syukur ibadah
Prefasi yang dibuka dengan dialog
pembukaan, kudus, doa syukur agung.
v
Komuni
-
Pengantar doa bapa kami
-
Doa Bapa kami
-
Embolisme
-
Salam Damai
-
Pemecahan Hosti suci- anak domba Allah
-
Doa menjelanag komuni
-
Ajakan menyambut kkomuni
-
Menyambut komuni di iringi lagu komuni
-
Saat Doa penutup
v
Penutup
-
Berkat
-
Pengutusan
-
Menghormati Altar
-
Lagu penutup
Ketika baru memulai ibadah, Uskup mengucapkan
salam kepada umat dan dengan sikap berdoa Uskup memulai dengan membacakan
Yesaya 66:10-11. Setelah itu umat diminta untuk berlutut sambil berdoa untuk
pengampunan dosa
Setiap
pada akhir bacaan selalu di ucapkan oleh petugas yang membaca dengan
mengucapkan ”Demikianlah sabda Tuhan” ( dengan nada yang di nyanyikan ) dan umat
menyahut dengan mengucapkan ” Syukur
kepada Allah.”
Pada
waktu bacaan injil umat berdiri dan Uskup mengucapkan ” Tuhan Sertamu” Dan umat
menyahut ” dan sertamu Juga” kemudian
uskup melanjutkan dengan berkata ”Inilah
injil Yesus Kristus menuru Injil Lukas”
Lalu umat menyahut” Dimuliakanlah Tuhan”.
Dan uskup membacakan isi bacaan yang pada saat itu terambil dari (Luk 15: 1-3.
11-32). Selama pembacaan injil umat
berdiri. Kemudian pembacaan itu diakhiri dengan kata-kata yang dinyanyikan ”Berbahagialah
orang yang mendengarkan sabda Tuhan, dan tekun melaksanakannya” lalu umat
menyahut ” sabdamu adalah jalan kebenaran
dan hidup kami.”
Pada
bagian syahadat umat diminta berdiri, begitu pula pada waktu menaikkan doa
umat. Adapun doa umat terdiri dari
;
1.
Doa bagi Paroki mereka,
2.
Bagi para orang tua,
3.
Bagi mereka yang lapar,
4.
Bagi diri sendiri.
Setiap
pokok doa tersebut seorang Suster mengatakan ”marilah kita mohon” dan umat
menyahut dengan mengcupkan ”kabulkanlah doa kami ya Tuhan.”
Lalu
kemudian masuk ke dalam ibadah Ekaristi yang diawali dengan persembahan, lalu
berdoa dan umat diminta berdiri sambil mengucapkan amin. Dan Uskup mengucapkan
doa Syukur Agung sebelum memasuki penerimaan komuni. Setelah menerima komuni
umat saling bersalaman dengan menyanyikan lagu salam damai. Setelah itu masuk
ke dalam penutup yang di bawakan oleh Pator Paroki dengan jubah putih sedangkan
Uskup berjubah hitam yang hanya memimpin ketika berjalannya ibadah. Dengan
masuknya ibadah penutup maka Pastor mengatakan ”Tuhan besertamu” dan umat
menyahut dengan mengatakan ”dan serta mu juga”
Komentar:
Di
sini ibadahnya tidak terlalu banyak melibatkan umat dalam artian seperti di
GKE, sehingga antara umat dan para Imam terlihat ada kesenjangan dan mereka
juga tidak terlalu terbuka untuk menerima orang luar untuk beribadah bersama
mereka, karena ibadah mereka adalah ibadah yang suci dan yang mengikutinya
ialah orang suci. Katolik masih kental dengan pendeskriminasian terhadap orang
yang dianggap tidak sesuai dengan criteria mereka. Namun tata ibadah Katolik
sangant menyenangkan, karena mereka masih menggunakan tata ibadah jaman dulu.
Mulai dari salam, pembacaan doa bapa kami dan pengutusan dan berkat pun mereka
gunakan dengan nyanyian seperti pembacaan kitab M,azmur pada jaman dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar