Sabtu, 11 Mei 2013





AKSI PASTORAL BAGI LANSIA
Pastoral adalah suatu bentuk pendampingan dan pelayanan yang tidak terbatas bagi orang-orang tertentu. Hal ini bersifat umum, baik itu bagi orang kaya atau miskin, tua atau muda, dan bahkan tidak membedakan latar belakang orang. Bagi setiap kalangan, maka aksi pastoralnya pun berbeda-beda, tergantung pada apa dan siapa kalangan itu dan apa kebutuhannya. Bertitiktolak dari hal itu, maka aksi pastoral bagi lansia pun juga berbeda jenisnya  dengan aksi pastoral bagi anak muda ataupun orang yang mengalami sakit jiwa. Aksi pastoral bagi lansia hanya dapat dilakukan bila kita mengenal lebih dulu siapa dan apa lansia, serta apa kebutuhan mereka.
            Menurut  UU No tahun 1998, yang dimaksud dengan lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Menjadi tua adalah adalah hasil hasil dan proses penuaan (aging process) yang sesungguhnya dialami oleh setiap manusia sejak awal ia ada. Dalam hal ini salah satu teori tentang penuaan menyebutkan  bahwa penuaan terjadi pada sel-sel tubuh setelah pembuahan berlangsung. Menurut WHO seseorang dapat dikatakan tua dibagi menjadi 4 tahapan, yakni :
  • Usia pertengahan tahun (45-50 tahun)
  • Usia lanjut (60-65 tahun)
  • Usia 70-75 tahun
  • Usia sangat tua (80 tahun ke atas)
Di Indonesia, definisi tua adalah bila seseorang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.[1]
            Lansia pada dasarnya memiliki 5 tipe kepribadian, yakni :[2]
a)      Konstruktif
Tipe ini tidak banyak mengalami gejolak dan tidak mudah stress.
b)      Mandiri
Biasa melakukan segala sesuatu secara sendiri, namun bila terjadi masalah yang membuat ia bergantung dari orang lain maka akan mengakibatkan stress.
c)      Tergantung
Sangat bergantung dengan orang lain, namun bila pasangan meninggal maka ia akan mengalami stress.
d)      Bermusuhan
Setelah memasuki masa lansia, ia tidak merasa puas.
e)      Kritik diri
Terlihat sengsara, perfeksionis, dan cenderung membuat susah diri sendiri.
            Bagi lansia, selain aspek biologis yang menurun, aspek sosial pun telah berbeda. Hal tersebut dapat dimengerti karena dalam aspek biologis banyak faktor yang menurun fungsinya, seperti contoh pancaindra, pada lansia indra perasa dan pembau telah berkurang sensitivitasnya. Belum lagi dalam proses metaboloisma yang memang telah menurun dalam fungsi pengabsorbsiannya. Hal ini dapat  menyebabkan banyak faktor pada lansia, salah satunya adalah turunya daya tahan tubuh yang menyebabkan lansia mudah terinfeksi penyakit.
            Dari hal di atas, dapat dilihat bahwa menjalani kehidupan sebagai lansia itu tidaklah mudah. Banyak hal yang perlu untuk diperhatikan agar dapat menjadi lansia yang bahagia, dan hal ini tidaklah mudah karena dalam masa lansia banyak masalah yang dihadapi yang basisnya tentu berbeda ketika masih muda. Ada beberapa masalah umum yang biasanya dihadapi oleh lansia, yakni :[3]
  1. Demensia
Gangguan intelektual / daya ingat yang umumnya progesif dan ireversibel. Faktor penyebabnya adalah usia, riwayat keluarga, dan biasanya jenis kelaminnya perempuan. Adapun criteria derajat demensia adalah ringan, sedang, dan berat.
  1. Depresi
Usia bukanlah faktor depresi tapi penyakit medis kronis dan masalah – masalah lain yang membuat mereka depresi. Adapun gejala depresi adalah :
·          gejala utama
Hilang minat dan kurang energy.
·         gejala lain
konsentrasi dan perhatian berkurang, kurang PD, sering merasa bersalah,pesimis, ide bunuh diri,  gangguan makan, dan gangguan tidur.
  1. Skizofrenia
Biasanya dimulai pada masa remaja akhir/ dewasa muda, dan menetap seumur hidup. Wanita lebih sering. Gejala-gejalanya antara lain : halusinasi pancaindra, arus pikir yang terputus, perilaku katatonik, dan gejala negative.
  1. Delusi ( gangguan khayalan / pikiran yang tidak rasional)
Adapun penyebab gangguan ini adalah kematian pasangan, isolasi sosial, financial yang tidak baik, penyakit medis, cacat, serta gangguan penglihatan dan pendengaran.
  1. Kecemasan
Gangguan kecemasan adalah gangguan panic, fobia, gangguan obsesif konfulsif, gangguan kecemasan umum, stress akut, gangguan stress pasca traumatic, dan yang utama adalah cemas soal kematian.
  1. Gangguan Somatiform
Ditandai oleh gejala yang sering ditemukan pada pasien di atas 60 tahun. Pendekatannya adalh melalui pendekatan psikologis dan formakologis.
  1. Gangguan penggunaan alcohol dan zat lain
  2. Gangguan tidur
            Dari hal-hal diatas telah diketahui bagaimana  lansia itu sebenarnya. Ini menjadi sangat penting untuk mengetahui langkah yang tepat dalam memberlakukan lansia. Setelah seseorang memasuki masa lansia, maka dukungan sosial dari orang lain sangat berharga dan akan menambah ketentraman hidupnya. Dukungan sosial yang dimaksud adalah seperti yang dipaparkan oleh Gottlieb yakni sebagai informasi verbal atau nonverbal, saran, bantuan yang nyata, atau tingkah laku yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan dengan subjek di dalam lingkungan sosialnya atau berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat memberikan keuntungan emisional/ berpengaruh pada tingkah laku penerimanya.[4] Dengan adanya dukungan sosial ini maka diharapkan dapat membawa kenyamana bagi lansia sehingga mereka dapat menikmati masa tua dengan bahagia.
            Lansia adalah golongan orang tua yang tentunya telah banyak menikmati asam garam atau dengan kata lain pengalaman dalam menjalani hiadup, mak oleh sebab itu perlu perhatian khusus dalam merawat lansia. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa dalam memberikan aksi pastoral untuk lansia adalah berbeda dengan orang-orang muda, maka ini menuntut ketelitian dan kesabaran dari para pelayan atau katakanlah konselor untuk mencari cara yang tepat dan menyenangkan bagi si konselor maupun bagi lansia juga.
            Dalam memberikan pelayanan bagi lansia, pemerintah telah berusaha mencari solusi sebab golongan lansia terus bertmbah tahun demi tahun. Sebagai contoh dari perhatian pemerintah antara lain dengan menagtur UU no 13 tahun 1998 tentang lansia dan resolusi no 46/91 tahun 1991 yang intinya berupa imbauan tentang hak dan kewajiban lanjut usia yang dirangkumkan dalam lima hak dan kelompok, yaitu kemandirian, partisipasi, pelayanan, pemenuhan diri,dan martabat[5].Berdasarkan hal di atas tentunya kita sepatutnya mengapresiasikan dengan positif usaha pemerintah dalam hal lansia. Namun, sebagai orang yang turut serta dalam masalah pelayanan maka sudah sepatutnya untuk terus mengembangkan aksi yang tepat untuk melayani dan merawat lansia.
            Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan sebelumnya mengenai siapa lansia dan apa masalah mereka maka aksi pastoral yang dapat dilakukan dalam merawat dan melayani kaum lansia antara lain :
a.       Mendengar
Mendengar pada dasarnya bukanlah hal yang mudah, karena bila terlalu lama atau bila mendengar kata yang berulang-ulang maka seringkali seseorang akan cenderung mengalami kebosanan. Lansia adalah orang yang biasanya suka bercerita, bernostalgia, curhat, berceramah, dan lain sebagainya. Mereka suka sekali bila didengarkan, karena bila seseorang mau mendengar ceritanya maka ada perasaan dihargai dari diri seorang lansia. Oleh sebab itu, ketika mendengar cerita seorang lansia maka perlu adanya kesabaran.
           Mendengar kadang-kadang memang membosankan, tapi bila didasari dengan kesabaran maka otomatis akan ada sisi positif dari hal itu. Pertama, kita dapat menjalin keakraban karena lansia merasa nyaman dan dihargai. Kedua, kita akan dapat mengetahui informasi mengenai lansia tersebut dari ceritanya. Ketiga, kita dapat mengetahui apa yang dia alami sekarang. Dan keempat, kita dapat mengetahui apa hal yang dia butuhkan sehingga kita dapat mengusahakan untuk memberinya.
b.   Merawat dengan cinta kasih
Merawat seorang lansia memang memerlukan ketelatenan dan cinta kasih sebab dengan demikian lansia dapat merasakan perhatian yang tulus dari kita sehingga dengan demikian ia dapat merasa nyaman dan tentram. Hal ini dapat membantu lansia dalam meminimalkan perasaan negative yang kadang cenderung muncul. Merawat lansia tentunya tidak harus menunggu ia sakit, tapi dalam keadaan sehat pun ia tetap memerlukan perawatan. Sehingga dengan demikian, lansia senantiasa terawat dalam keadaan apapun dan menikmati masa tuanya. Dengan hal ini kita secara tidak langsung berperan dalam membentuk pribadi yang bahagia.
            Dalam merawat lansia, kita pun bisa mengajak mereka untuk melakukan kegiatan yang sifatnya olahraga, misalnya senam khusus lansia. Hal ini dapat membantu mereka untuk menjaga kesehatan yang biasanya terganggu oleh berbagai penyakit di masa tua. Selain itu, dalam member perawatan pada lansia kita juga harus memperhatikan makanan dan asupan gizi bagi lansia.
c.   Memberi motivasi
Memberi motivasi adalah bagaimana kita terus menyemangati lansia agar tetap semangat dalam menjalani hidup. Hal ini membuat mereka terus berjuang dan berusaha menjadi pribadi yang selalu optimis dan ceria, dan terhindar dari perasaan rendah diri dan perasaan lainnya.
d.   Kehadiran
Dengan hadir di samping mereka maka kita telah membantu mereka dalam menghindari rasa kesepian yang mungkin dialami oleh mereka. Dengan hadir dan menemani mereka maka kitapun bisa berbagi pikiran dengan mereka sebab tidak dapat dipungkiri bahwa mereka telah memiliki banyak pengalaman.
e.   Mengajak mereka untuk berpikir dalam memecahkan suatu masalah
Dengan mengajak mereka dalam memecahkan masalah maka kita telah memposisikan mereka sebagai orang yang memiliki peran penting. Lansia bukanlah sosok yang lembek dan tidak berdaya, sebab banyak lansia yang juga selalu aktif dan enerjik. Dengan melakukan hal ini maka secara tidak langsung kita telah menumbuhkan perasaan dihargai dan diterima dalam diri lansia.
            Aksi pastoral di atas memang membutuhkan kesabaran namun bila dilakukan dengan sukacita dan rela hati maka otomatis hal di atas akan menjadi menyenangkan. Dengan melakukan aksi seperti di atas  maka secara tidak langsung kita telah menghibur mereka, dan hal ini akan menjadi maksimal bila kita menganggap mereka seperti nenek kakek kita sendiri karena dengan demikian kita dapat mencurahkan kasih sayang dan perhatian tanpa perasaan bahwa mereka tidak patut untuk dilayani dan dirawat. Dan yang penting dari itu semua adalah kita dapat melakukannya dengan sukarela tanpa ada niat untuk memerintah mereka, tapi sebaliknya dapat menjadi sosok yang patut dikagumi dan dapat menjadi teladan, seperti yang ditetapkan dalam 1 Petrus 5 : 2-3.





[1] http :// www.humanitarianinfo.org/, Tanggal 13 april 2010.
[2] Materi pelajaran Pastoral Klinis dari pdt. Retni Mulyani M.Si, jumat 8 april 2010.
[3] http :// www.mitrainti.org/, tanggal 13 april 2010.
[4] ibid
[5] ofcit http ://humanitarianinfo.org/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar