AKSI PASTORAL BAGI
LANSIA
Pastoral adalah suatu bentuk pendampingan dan pelayanan yang
tidak terbatas bagi orang-orang tertentu. Hal ini bersifat umum, baik itu bagi
orang kaya atau miskin, tua atau muda, dan bahkan tidak membedakan latar
belakang orang. Bagi setiap kalangan, maka aksi pastoralnya pun berbeda-beda,
tergantung pada apa dan siapa kalangan itu dan apa kebutuhannya. Bertitiktolak
dari hal itu, maka aksi pastoral bagi lansia pun juga berbeda jenisnya dengan aksi pastoral bagi anak muda ataupun
orang yang mengalami sakit jiwa. Aksi pastoral bagi lansia hanya dapat
dilakukan bila kita mengenal lebih dulu siapa dan apa lansia, serta apa
kebutuhan mereka.
Menurut UU No tahun 1998, yang dimaksud dengan lansia
adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Menjadi tua adalah
adalah hasil hasil dan proses penuaan (aging process) yang sesungguhnya dialami
oleh setiap manusia sejak awal ia ada. Dalam hal ini salah satu teori tentang
penuaan menyebutkan bahwa penuaan
terjadi pada sel-sel tubuh setelah pembuahan berlangsung. Menurut WHO seseorang
dapat dikatakan tua dibagi menjadi 4 tahapan, yakni :
- Usia pertengahan tahun (45-50 tahun)
- Usia lanjut (60-65 tahun)
- Usia 70-75 tahun
- Usia sangat tua (80 tahun ke atas)
Di Indonesia, definisi tua adalah
bila seseorang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.[1]
Lansia pada
dasarnya memiliki 5 tipe kepribadian, yakni :[2]
a)
Konstruktif
Tipe ini tidak banyak mengalami
gejolak dan tidak mudah stress.
b)
Mandiri
Biasa melakukan segala sesuatu secara
sendiri, namun bila terjadi masalah yang membuat ia bergantung dari orang lain
maka akan mengakibatkan stress.
c)
Tergantung
Sangat bergantung dengan orang lain,
namun bila pasangan meninggal maka ia akan mengalami stress.
d)
Bermusuhan
Setelah memasuki masa lansia, ia
tidak merasa puas.
e)
Kritik
diri
Terlihat sengsara, perfeksionis, dan
cenderung membuat susah diri sendiri.
Bagi lansia,
selain aspek biologis yang menurun, aspek sosial pun telah berbeda. Hal
tersebut dapat dimengerti karena dalam aspek biologis banyak faktor yang
menurun fungsinya, seperti contoh pancaindra, pada lansia indra perasa dan
pembau telah berkurang sensitivitasnya. Belum lagi dalam proses metaboloisma
yang memang telah menurun dalam fungsi pengabsorbsiannya. Hal ini dapat menyebabkan banyak faktor pada lansia, salah
satunya adalah turunya daya tahan tubuh yang menyebabkan lansia mudah
terinfeksi penyakit.
Dari hal di
atas, dapat dilihat bahwa menjalani kehidupan sebagai lansia itu tidaklah
mudah. Banyak hal yang perlu untuk diperhatikan agar dapat menjadi lansia yang
bahagia, dan hal ini tidaklah mudah karena dalam masa lansia banyak masalah
yang dihadapi yang basisnya tentu berbeda ketika masih muda. Ada beberapa
masalah umum yang biasanya dihadapi oleh lansia, yakni :[3]
- Demensia
Gangguan intelektual / daya ingat
yang umumnya progesif dan ireversibel. Faktor penyebabnya adalah usia, riwayat
keluarga, dan biasanya jenis kelaminnya perempuan. Adapun criteria derajat
demensia adalah ringan, sedang, dan berat.
- Depresi
Usia bukanlah faktor depresi tapi
penyakit medis kronis dan masalah – masalah lain yang membuat mereka depresi.
Adapun gejala depresi adalah :
·
gejala utama
Hilang minat dan kurang energy.
·
gejala
lain
konsentrasi dan perhatian berkurang,
kurang PD, sering merasa bersalah,pesimis, ide bunuh diri, gangguan makan, dan gangguan tidur.
- Skizofrenia
Biasanya dimulai pada masa remaja
akhir/ dewasa muda, dan menetap seumur hidup. Wanita lebih sering.
Gejala-gejalanya antara lain : halusinasi pancaindra, arus pikir yang terputus,
perilaku katatonik, dan gejala negative.
- Delusi ( gangguan khayalan / pikiran yang tidak rasional)
Adapun penyebab gangguan ini adalah
kematian pasangan, isolasi sosial, financial yang tidak baik, penyakit medis,
cacat, serta gangguan penglihatan dan pendengaran.
- Kecemasan
Gangguan kecemasan adalah gangguan
panic, fobia, gangguan obsesif konfulsif, gangguan kecemasan umum, stress akut,
gangguan stress pasca traumatic, dan yang utama adalah cemas soal kematian.
- Gangguan Somatiform
Ditandai oleh gejala yang sering
ditemukan pada pasien di atas 60 tahun. Pendekatannya adalh melalui pendekatan
psikologis dan formakologis.
- Gangguan penggunaan alcohol dan zat lain
- Gangguan tidur
Dari hal-hal
diatas telah diketahui bagaimana lansia
itu sebenarnya. Ini menjadi sangat penting untuk mengetahui langkah yang tepat
dalam memberlakukan lansia. Setelah seseorang memasuki masa lansia, maka
dukungan sosial dari orang lain sangat berharga dan akan menambah ketentraman
hidupnya. Dukungan sosial yang dimaksud adalah seperti yang dipaparkan oleh Gottlieb
yakni sebagai informasi verbal atau nonverbal, saran, bantuan yang nyata, atau
tingkah laku yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan dengan subjek di
dalam lingkungan sosialnya atau berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat
memberikan keuntungan emisional/ berpengaruh pada tingkah laku penerimanya.[4] Dengan
adanya dukungan sosial ini maka diharapkan dapat membawa kenyamana bagi lansia
sehingga mereka dapat menikmati masa tua dengan bahagia.
Lansia
adalah golongan orang tua yang tentunya telah banyak menikmati asam garam atau
dengan kata lain pengalaman dalam menjalani hiadup, mak oleh sebab itu perlu
perhatian khusus dalam merawat lansia. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya
bahwa dalam memberikan aksi pastoral untuk lansia adalah berbeda dengan
orang-orang muda, maka ini menuntut ketelitian dan kesabaran dari para pelayan
atau katakanlah konselor untuk mencari cara yang tepat dan menyenangkan bagi si
konselor maupun bagi lansia juga.
Dalam
memberikan pelayanan bagi lansia, pemerintah telah berusaha mencari solusi
sebab golongan lansia terus bertmbah tahun demi tahun. Sebagai contoh dari
perhatian pemerintah antara lain dengan menagtur UU no 13 tahun 1998 tentang
lansia dan resolusi no 46/91 tahun 1991 yang intinya berupa imbauan tentang hak
dan kewajiban lanjut usia yang dirangkumkan dalam lima hak dan kelompok, yaitu
kemandirian, partisipasi, pelayanan, pemenuhan diri,dan martabat[5].Berdasarkan
hal di atas tentunya kita sepatutnya mengapresiasikan dengan positif usaha
pemerintah dalam hal lansia. Namun, sebagai orang yang turut serta dalam
masalah pelayanan maka sudah sepatutnya untuk terus mengembangkan aksi yang
tepat untuk melayani dan merawat lansia.
Berdasarkan
penjelasan yang telah diuraikan sebelumnya mengenai siapa lansia dan apa masalah
mereka maka aksi pastoral yang dapat dilakukan dalam merawat dan melayani kaum
lansia antara lain :
a.
Mendengar
Mendengar pada dasarnya bukanlah hal
yang mudah, karena bila terlalu lama atau bila mendengar kata yang
berulang-ulang maka seringkali seseorang akan cenderung mengalami kebosanan.
Lansia adalah orang yang biasanya suka bercerita, bernostalgia, curhat,
berceramah, dan lain sebagainya. Mereka suka sekali bila didengarkan, karena
bila seseorang mau mendengar ceritanya maka ada perasaan dihargai dari diri
seorang lansia. Oleh sebab itu, ketika mendengar cerita seorang lansia maka
perlu adanya kesabaran.
Mendengar
kadang-kadang memang membosankan, tapi bila didasari dengan kesabaran maka
otomatis akan ada sisi positif dari hal itu. Pertama, kita dapat menjalin
keakraban karena lansia merasa nyaman dan dihargai. Kedua, kita akan dapat
mengetahui informasi mengenai lansia tersebut dari ceritanya. Ketiga, kita
dapat mengetahui apa yang dia alami sekarang. Dan keempat, kita dapat
mengetahui apa hal yang dia butuhkan sehingga kita dapat mengusahakan untuk
memberinya.
b.
Merawat dengan cinta kasih
Merawat seorang lansia
memang memerlukan ketelatenan dan cinta kasih sebab dengan demikian lansia
dapat merasakan perhatian yang tulus dari kita sehingga dengan demikian ia
dapat merasa nyaman dan tentram. Hal ini dapat membantu lansia dalam
meminimalkan perasaan negative yang kadang cenderung muncul. Merawat lansia
tentunya tidak harus menunggu ia sakit, tapi dalam keadaan sehat pun ia tetap
memerlukan perawatan. Sehingga dengan demikian, lansia senantiasa terawat dalam
keadaan apapun dan menikmati masa tuanya. Dengan hal ini kita secara tidak
langsung berperan dalam membentuk pribadi yang bahagia.
Dalam merawat lansia, kita pun bisa mengajak mereka untuk
melakukan kegiatan yang sifatnya olahraga, misalnya senam khusus lansia. Hal
ini dapat membantu mereka untuk menjaga kesehatan yang biasanya terganggu oleh
berbagai penyakit di masa tua. Selain itu, dalam member perawatan pada lansia
kita juga harus memperhatikan makanan dan asupan gizi bagi lansia.
c. Memberi motivasi
Memberi motivasi adalah
bagaimana kita terus menyemangati lansia agar tetap semangat dalam menjalani
hidup. Hal ini membuat mereka terus berjuang dan berusaha menjadi pribadi yang
selalu optimis dan ceria, dan terhindar dari perasaan rendah diri dan perasaan
lainnya.
d. Kehadiran
Dengan hadir di samping
mereka maka kita telah membantu mereka dalam menghindari rasa kesepian yang
mungkin dialami oleh mereka. Dengan hadir dan menemani mereka maka kitapun bisa
berbagi pikiran dengan mereka sebab tidak dapat dipungkiri bahwa mereka telah
memiliki banyak pengalaman.
e. Mengajak mereka untuk berpikir dalam
memecahkan suatu masalah
Dengan mengajak mereka
dalam memecahkan masalah maka kita telah memposisikan mereka sebagai orang yang
memiliki peran penting. Lansia bukanlah sosok yang lembek dan tidak berdaya,
sebab banyak lansia yang juga selalu aktif dan enerjik. Dengan melakukan hal
ini maka secara tidak langsung kita telah menumbuhkan perasaan dihargai dan
diterima dalam diri lansia.
Aksi
pastoral di atas memang membutuhkan kesabaran namun bila dilakukan dengan
sukacita dan rela hati maka otomatis hal di atas akan menjadi menyenangkan.
Dengan melakukan aksi seperti di atas
maka secara tidak langsung kita telah menghibur mereka, dan hal ini akan
menjadi maksimal bila kita menganggap mereka seperti nenek kakek kita sendiri
karena dengan demikian kita dapat mencurahkan kasih sayang dan perhatian tanpa
perasaan bahwa mereka tidak patut untuk dilayani dan dirawat. Dan yang penting
dari itu semua adalah kita dapat melakukannya dengan sukarela tanpa ada niat
untuk memerintah mereka, tapi sebaliknya dapat menjadi sosok yang patut
dikagumi dan dapat menjadi teladan, seperti yang ditetapkan dalam 1 Petrus 5 : 2-3.
[1]
http :// www.humanitarianinfo.org/,
Tanggal 13 april 2010.
[2]
Materi pelajaran Pastoral Klinis dari pdt. Retni Mulyani M.Si, jumat 8 april
2010.
[3]
http :// www.mitrainti.org/, tanggal 13
april 2010.
[4]
ibid
[5]
ofcit http ://humanitarianinfo.org/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar